Nunsius Apostolik

Calling of the Apostles, 1841, by Domenico Ghirlandaio

Nunsius Apostolik adalah diplomat gerejawi yang berperan sebagai duta besar Bapa Suci untuk pemerintah sipil yang dengannya Takhta Suci menjaga relasi diplomatik formal. Menurut Kitab Hukum Kanonik, Nunsius memiliki dua peran utama: peran diplomatik dan gerejawi.

Dalam peran diplomatiknya, Nunsius Apostolik sama dengan duta besar negara-negara lain. Ia ditugaskan untuk memelihara dan mengembangkan relasi baik antara pemerintah sipil dan Takhta Suci. Hal ini mencakup melakukan pengamatan dan membuat laporan tentang situasi politik, sosial dan keagaamaan di negara terkait, khususnya mengenai hidup dan perkembangan Gereja lokal.

Dalam peran gerejawinya, Nunsius Apostolik memainkan peran kunci dalam menguatkan ikatan antara Gereja lokal dan Bapa Suci. Satu perwujudan konkret peran ini ialah keterlibatannya dalam proses mencari calon uskup. Otoritas untuk mengangkat uskup hanya dimiliki Paus, dan Nunsius Apostolik bertugas untuk menyediakan informasi yang relevan dan terpercaya guna membantu Bapa Suci dalam mengambil keputusan.

Guna menerangi lebih lanjut panggilan ini, dalam pidatonya kepada para Nunsius Apostolik, Paus Leo XIV menggarisbawahi peran hakiki Perwakilan Kepausan dalam menyampaikan aspirasi dan kebutuhan Gereja Lokal. Ia berkata bahwa hal ini memampukan Paus untuk berpartisipasi dengan lebih mendalam dalam kehidupan uamt beriman. Dengan mengacu pada kisah St. Petrus yang menyembuhkan orang yang lumpuh, Bapa Suci berkata:

“Pelayanan Petrus bertujuan untuk menciptakan relasi, jembatan: dan Perwakilan Paus, pertama dan terutama, melaksanakan undangan ini untuk melihat ke dalam mata seseorang. Jadilah selalu mata Petrus! Jadilah orang yang mampu membangun relasi di tempat yang amat sulit untuk melakukannya. Tapi dengan berbuat demikian, jagalah kerendahan hati dan realisme Petrus yang sama, yang sadar bahwa ia tidak memiliki solusi atas segalanya: ‘Aku tidak memiliki emas atau perak’ ia berkata; tapi ia tahu apa yang penting, yakni Kristus, makna terdalam setiap eksistensi: ‘Dalam nama Yesus Kristus dari Nazareth, berjalanlah!’”

Sebagai simbol identitas ini, Paus Leo XIV memberikan masing-masing Nunsius dengan cincin yang terukir kata sub umbra Petri, “di bawah bayang-bayang Petrus”. Melalui gestur simbolik ini, Paus menekankan bahwa pelayanan Nunsius Apostolik tidaklah terpisahkan dari persekutuan dengan Penerus St. Petrus:

“Rasakanlah selalu bahwa Anda terikat dengan Petrus, dilindungi oleh Petrus, dan diutus oleh Petrus. Hanya dalam ketaatan dan Persekutuan efektif dengan Paus maka pelayanan Anda menjadi efektif bagi Pembangunan Gereja, dalam Persekutuan dengan uskup-uskup lokal.”

Pada saat yang sama, Paus Leo XIV mengingatkan para Nunsius akan ciri misioner panggilan mereka. Dengan diutus ke berbagai penjuru dunia sebagai jembatan antara Gereja universal dan Gereja lokal, mereka harus mewujudkan panggilan Gereja untuk memajukan kesatuan, martabat manusia, dan dialog:

“Rasakanlah bahwa Anda adalah misionaris, yang diutus Paus untuk menjadi sarana persekutuan, persatuan, dan melayani martabat pribadi manusia, untuk mengembangkan relasi tulus dan konstruktif di mana saja dengan para pejabat sipil dengan dengannya Anda harus bekerja sama. Semoga kompetensi Anda selalu diterangi oleh keputusan bijak untuk kekudusan.”

Kesimpulannya, Nunsius Apostolik bukan hanya seorang agen diplomatik, tapi juga kesaksian yang hidup akan pelayanan Petrus: seorang pelayan persatuan, sarana persekutuan dan jembatan antara hati Gereja dan dunia. Berakar dalam ketaatan kepada Paus dan dihidupi oleh semangat kerendahan hati dan misioner, panggilan Nunsius Apostolik memiliki makna pastoral mendalam. Dalam dunia yang terbelah, ia dipanggil untuk melihat dengan mata Petrus dan bertindak dengan hati Kristus, seraya mewujudkan kehadiran Gereja sebagai gembala dan hamba di tengah bangsa-bangsa.